Selasa, 17 Mei 2016

Mas Agustinus Adisutjipto

Mas Agutinus Adisutjipto
Foto:
 

Mas Agutinus Adisutjipto

Nama Lengkap : Mas Agutinus Adisutjipto
Alias : No Alias
Profesi : Pahlawan Nasional
Agama : Katolik
Tempat Lahir : Salatiga, Jawa Tengah
Tanggal Lahir : Senin, 3 Juli 1916
Zodiac : Cancer
Warga Negara : Indonesia

No Relation
BIOGRAFI
  • Mas Agustinus Adisucipto, Marsekal Muda Anumerta. Ia dilahirkan di Salatiga, Jawa Tengah pada tanggal 3 Juli 1916. Sebelumnya, Agustinus Adisucipto ini merupakan calon dokter yang bersekolah di GHS (Geneeskundige Hoge School), namun kecintaannya pada dunia dirgantara ternyata membelokkan niat mulianya untuk menjadi seorang dokter. 

  • Seusai Indonesia memenangkan pertempuran sengit melawan Belanda dan Jepang, pria yang akrab disapa Adisucipto ini bergabung pada Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) setelah sebelumnya mengenyam pendidikan di Sekolah Penerbangan (Militaire Luchtvaaart Opleiding School). Kepiawaian dan kemampuannya dalam mengemudikan pesawat membuatnya seketika ditunjuk sebagai Kepala Staf AURI.

  • Pada tahun 1945 tepatnya tanggal 15 November, Adisucipto mendirikan sekolah penerbangan yang berlokasi di Jogjakarta. Sebelumnya, di tahun yang sama, ia melakukan penerbangan pertamanya dengan sebuah pesawat rakitan berjenis Curen.
  •  
  • Pada tahun 1947, dalam Agresi Militer Belanda I dimana Belanda kembali ingin menduduki Indonesia, Adisucipto diperintahkan untuk terbang ke India dalam upaya mengambil bantuan obat-obatan yang diberikan oleh Palang Merah Malaya dan India. Namun sayang, dalam perjalanan dengan banyak obat-obatan yang diangkut yang akan diberikan kepada rakyat, pesawat yang dikemudikan oleh Adisucipto, Abdulrahman Saleh, Adi Sumarmo, dan F.A Gani ini mengalami kecelakaan akibat peluru yang ditembakkan dua pesawat P-40 Kittyhawk milik Belanda mengenai pesawat Dakota VT-CLA yang mereka kemudikan. Dalam peristiwa naas itu pesawat terbang milik Indonesia mengalami kebakaran hebat dan seluruh awak pesawat meninggal kecuali F.A Gani.

  • Adisucipto meninggal pada tanggal 27 Juli 1947 dan dimakamkan di pemakaman umum Kuncen I dan II yang kemudian dipindahkan ke Monumen Perjuangan di Desa Ngoto, Bantul, Jogjakarta. Berkat jasanya, Adisucipto meraih gelar Bapak Penerbang Indonesia serta gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres No. 071/TK/1974 tanggal 9 November 1974.

  • Riset dan analisa oleh Atiqoh Hasan.
  • PENDIDIKAN
  • MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, SMP Belanda)
  • AMS (Algemene Middelbare School, SMA bagian Ilmu Pasti Alam), Semarang
  • GHS (Geneeskundige Hoge School, Sekolah Tinggi Kedokteran), Jakarta
  • Sekolah Penerbangan (Militaire Luchtvaaart Opleiding School), Kalijati, Jawa Barat
KARIR
  • Marsekal Muda Anumerta
PENGHARGAAN
  • Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres No. 071/TK/1974 tanggal 9 November 1974
  • Bapak Penerbang Indonesia

Pahlawan Nasional Indonesia

Pangeran Antasari

 Pangeran Antasari :

                              Hasil gambar untuk Pangeran antasari

























Masa kekuasaan : 14 Maret 1862 - 11 Oktober 1862
                             
Pendahulu            : Sultan Hidayatullah Khalilullah
Pengganti             : Sultan Muhammad Seman
Pasangan             : Ratu Antasari
Nyai Fatimah
Wangsa                : Dinasti Banjarmasin
Ayah                     : Pangeran Masud bin Pangeran Amir
Ibu                        : Gusti Khadijah binti Sultan Sulaiman
















Pangeran Antasari (lahir di Kayu Tangi, Kesultanan Banjar, 1797 atau 1809,meninggal di Bayan Begok, Hindia-Belanda, 11 Oktober 1862 pada umur 53 tahun) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia

Ia adalah Sultan Banjar.Pada 14 Maret 1862, dia dinobatkan sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar (Sultan Banjar) dengan menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin dihadapan para kepala suku Dayak dan adipati (gubernur) penguasa wilayah Dusun Atas, Kapuas dan Kahayan yaitu Tumenggung Surapati/Tumenggung Yang Pati Jaya Raja.


Silsilah Pangeran Antasari 
Semasa muda nama beliau adalah Gusti Inu Kartapati. Ayah Pangeran Antasari adalah Pangeran Masohut (Mas'ud) bin Pangeran Amir bin Sultan Muhammad Aminullah. Ibunya Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman. Pangeran Antasari mempunyai adik perempuan yang bernama Ratu Antasari/Ratu Sultan yang menikah dengan Sultan Muda Abdurrahman tetapi meninggal lebih dulu sebelum memberi keturunan. Pangeran Antasari tidak hanya dianggap sebagai pemimpin Suku Banjar, beliau juga merupakan pemimpin Suku Ngaju, Maanyan, Siang, Sihong, Kutai, Pasir, Murung, Bakumpai dan beberapa suku lainya yang berdiam di kawasan dan pedalaman atau sepanjang Sungai Barito.

Setelah Sultan Hidayatullah ditipu belanda dengan terlebih dahulu menyandera Ratu Siti (Ibunda Pangeran Hidayatullah) dan kemudian diasingkan ke Cianjur, maka perjuangan rakyat Banjar dilanjutkan pula oleh Pangeran Antasari. Sebagai salah satu pemimpin rakyat yang penuh dedikasi maupun sebagai sepupu dari pewaris kesultanan Banjar. Untuk mengokohkan kedudukannya sebagai pemimpin perjuangan umat Islam tertinggi di Banjar bagian utara (Muara Teweh dan sekitarnya), maka pada tanggal 14 Maret 1862, bertepatan dengan 13 Ramadhan 1278 Hijriah, dimulai dengan seruan:
"Hidup untuk Allah dan Mati untuk Allah!"
Seluruh rakyat, pejuang-pejuang, para alim ulama dan bangsawan-bangsawan Banjar; dengan suara bulat mengangkat Pangeran Antasari menjadi "Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin", yaitu pemimpin pemerintahan, panglima perang dan pemuka agama tertinggi.[6]

Tidak ada alasan lagi bagi Pangeran Antasari untuk berhenti berjuang, ia harus menerima kedudukan yang dipercayakan oleh Pangeran Hidayatullah kepadanya dan bertekad melaksanakan tugasnya dengan rasa tanggung jawab sepenuhnya kepada Allah dan rakyat.


Perlawanan terhadap Belanda 
Lanting Kotamara semacam panser terapung di sungai Barito dalam pertempuran dengan Kapal Celebes dekat pulau Kanamit, Barito Utara Perang Banjar pecah saat Pangeran Antasari dengan 300 prajuritnya menyerang tambang batu bara milik Belanda di Pengaron tanggal 25 April 1859. Selanjutnya peperangan demi peperangan dipkomandoi Pangeran antasari di seluruh wilayah Kerajaan Banjar. Dengan dibantu para panglima dan pengikutnya yang setia, Pangeran Antasari menyerang pos-pos Belanda di Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tanah Laut, Tabalong, sepanjang sungai Barito sampai ke Puruk Cahu.

Dalam peperangan, belanda pernah menawarkan hadiah kepada siapa pun yang mampu menangkap dan membunuh Pangeran Antasari dengan imbalan 10.000 gulden. Namun sampai perang selesai tidak seorangpun mau menerima tawaran ini. Setelah berjuang di tengah-tengah rakyat, Pangeran Antasari kemudian wafat di tengah-tengah pasukannya tanpa pernah menyerah, tertangkap, apalagi tertipu oleh bujuk rayu Belanda pada tanggal 11 Oktober 1862 di Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang, dalam usia lebih kurang 75 tahun. Menjelang wafatnya, beliau terkena sakit paru-paru dan cacar yang dideritanya setelah terjadinya pertempuran di bawah kaki Bukit Bagantung, Tundakan.
Makam Pangeran Antasari
Setelah terkubur selama lebih kurang 91 tahun di daerah hulu sungai Barito, atas keinginan rakyat Banjar dan persetujuan keluarga, pada tanggal 11 November 1958 dilakukan pengangkatan kerangka Pangeran Antasari. Yang masih utuh adalah tulang tengkorak, tempurung lutut dan beberapa helai rambut. Kemudian kerangka ini dimakamkan kembali Komplek Pemakaman Pahlawan Perang Banjar, Kelurahan Surgi Mufti, Banjarmasin.
                                   https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg_Lg6ItUJ35P3xdd1hg_CiHJP7V3gu3dYz9WaT59BaIp1ob-b5y3B6dSk48eRhI0NQ-SELzZDJ82m05dDSxxZFYu9XOmOUm843QL18x4UOnFab30-4Ryty7UVqhRm5mH3mLJ41q3yNdmKu/s1600/2026.JPG



Pangeran Antasari telah dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan oleh pemerintah Republik Indonesia berdasarkan SK No. 06/TK/1968 di Jakarta, tertanggal 23 Maret 1968. Nama Antasari diabadikan pada Korem 101/Antasari dan julukan untuk Kalimantan Selatan yaitu Bumi Antasari. Kemudian untuk lebih mengenalkan P. Antasari kepada masyarakat nasional, Pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) telah mencetak dan mengabadikan nama dan gambar Pangeran Antasari dalam uang kertas nominal Rp 2.000. 


Sumber : 1.https://id.wikipedia.org/wiki/Pangeran_Antasari

                2.http://www.biografiku.com/2011/09/biografi-pangeran-antasari.html